Muhammad Sebenar-benar Pelayan Umat

Rindu kami padamu, Ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya Rasul
Serasa dikau disini
Cinta ikhlasmu pada manusia, bagai cahaya suarga…
-Bimbo-
Adakalanya benar sebait lirik lagu tersebut diatas. Sepertinya memang sungguh benar bahwasanya umat beliau kini sedang sangat rindu akan keberadaan beliau disisi mereka. Tengoklah sebentar para pemimpin kita yang sedang asyik memperkaya diri dengan korupsi, bangga menjadikan rakyat mereka pekerja setia, bahagia menindas dan mengebiri hak-hak rakyat demi melebihkan haknya tanpa peduli apakah sudah tertunai ataukah justru terbengkalai kewajiban-kewajiban dan amanah yang dititipkan Tuhan padanya.
Berabad jarak darimu ya Rasul,
Benar pula kiranya kalau sudah terlampau jauh kami terpisah dari sang uswah, sudah terlampau jauh sampai kami kehilangan jejak langkah sang tauladan dan ahirnya kehilangan arah. Kami rindu, dan para pemimpin kami saat ini lebih rindu pada sifat dan jiwa yang menjadikan sang Rasul pemimpin terbaik sepanjang masa.
Mari kita meluaskan lagi kata pemimpin yang pada awalnya sudah saya kerucutkan pada pemimpin negara. Mari kita perluas seluas-luasnya hingga sampai pada kesadaran bahwa tiap-tiap diri kita adalah seorang pemimpin seperti yang Nabi Muhammad SAW jelaskan dalam sabdanya, “Tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanya.” (HR. Al-Bukhari). Kita sudah terlahir sebagai seorang pemimpin, we were born to lead meski pada aplikasinya di dunia saat ini kita diberikan amanah kepemimpinan yang berbeda-beda. Ada sebagian dari kita yang oleh sebab terpercaya maka diberikan tugas menjadi seorang pemimpin negara, ada yang menjadi pemimpin organisasi, ada yang menjadi pemimpin golongan atau hanya sebuah kumpulan, bahkan jika kita bukan salah satu yang diberikan amanah itu, tetaplah masing-masing diri kita adalah seorang pemimpin. Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya, ibu adalah pemimpin bagi anak-anaknya, dan setiap orang bertanggung jawab memimpin dirinya.
Pemimpin, Leader… terdengar merupakan kata yang seolah besar dan membesarkan bagi yang memegangnya. Seorang pemimpin terletak diatas dari yang dipimpinnya, seorang pemimpin adalah raja yang memiliki hak-hak istimewa, seorang pemimpin adalah ia yang oleh yang dipimpinnya diberikan penghormatan tinggi dan diagung-agungkan. Seorang pemimpin adalah ia yang punya kuasa dan harus dilayani segala perlu dan butuhnya. Kurang lebih begitu, kami, manusia pada zaman ini memaknainya. Maka wajar saja tangkup kepemimpinan adalah posisi yang diidam-idamkan hingga jadi rebutan. Bahkan tak jarang beberapa cara kotor dihalalkan untuk berada menduduki posisi yang menjanjikan segala kenikmatan tersebut. Saya tidak bisa membayangkan betapa sedihnya beliau sang Rasul melihat kondisi seperti ini di dunia.
Tak ada yang ingat apa yang terjadi dulu sekali setelah Nabi Muhammad wafat dipangkuan Khadijah RA. Tak ada yang mengambil pelajaran dari bagaimana terpilihnya Abu Bakar saat itu. Abu Bakar RA tidak meminta, tidak pernah sekalipun mengajukan dirinya sebagai seorang pemimpin menggantikan Rasulullah SAW. Beliau yang bahkan sudah jelas menjadi satu-satunya yang pernah diminta menjadi imam atas shalatnya umat islam selama Rasul sakitpun bahkan dengan ridho dan kerelaan hati membai’at dua orang selainnya yaitu Umar dan Abu Ubaidah untuk melanjutkan khilafah setelah rasulullah. Namun sebab para saudara mengakui bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling dicintai Sang Rasul lagi paling bijaksana, maka berdirilah Umar mengingatkan yang lainnya bahwa Abu Bakarlah yang tepat diangkat sebagai pemimpin selanjutnya. Baru setelah semua menyetujui akan diangkatnya ia sebagai pemimpin, Abu Bakarpun menyetujui meski sebenarnya ada rasa berat yang menggelayuti hatinya. Berat bukan sebab ia tak mampu, tapi karena tinggi dan besarnya amanah yang akan dipikulnya, karena ia tahu tak mampu sebaik rasulullah dalam memimpin kaumnya.
Abu bakar RA, pemimpin terpilih kedua setelah Muhammad SAW sang pemimpin terbaik dunia, mengapa tak ada yang mencoba belajar dari bagaimana cara terpilihnya beliau memimpin khilafah islam sepeninggal sang nabi? Mengapa hanya sedikit yang mau merasai bagaimana Khawatir dan takutnya Abu Bakar akan ketidak sanggupannya memikul amanah saat hendak terpilih sebagai seorang pemimpin? Mengapa sedikit sekali yang merasai ketakutan dan kekhawatiran Abu Bakar itu saat ini?
Muhammad SAW, bagaimana mungkin Abu Bakar tak hawatir akan ketidak sanggupannya memimpin kaumnya sebaik yang dilakukan anak menantunya itu, bagaimana mungkin ia menyamai orang yang dicintai dan mencintai sepenuh hati para umatnya itu? Bagaimana mungkin ia melayani sebaaimana Rasulullah melayani para umatnya? Ya, ketakutan Abu Bakar sungguh beralasan. Rasullullah adalah sebenar-benar pelayan bagi umatnya. Disinilah letak beda cara memimpin Rasulullah dengan pemimpin kita pada saat ini. Muhammad SAW tidak pernah ingin ditinggikan dan dilebihkan dari saudaranya yang lain meski semua mengetahui ia sudah dijanjikan oleh Allah tempat terbaik disisiNya. Ketika datang disebuah kumpulan majelis dan orang-orang bersegera bangkit untuk menyambut dan mempersiapkan tempat duduk untuknya, Rasulullah menyuruhnya segera kembali duduk dan melarang mereka melakukan hal demikian lagi dikemudian hari. Ketika hendak membakar kambing dan semua umatnya sibuk dalam persiapan, Sang rasul bangkit dan berkata “Aku yang akan pergi mencari kayu bakarnya”. Saat umatnya enggan dan mencegahnya beliau justru berkata “Saya tahu kalian bisa menyelesaikan pekerjaan ini, tapi saya tidak suka diistimewakan. Sungguh Allah SWT tidak suka melihat salah seorang hamba-Nya diistimewakan dari kawan-kawannya.” (Akhlak rasul Menurut Bukhari Muslim, 24-25). Beliau Rasulullah hampir tidak pernah menyuruh istrinya membuatkan minuman untuknya, beliau selalu denga senang hati mengambilnya sendiri. Rasul selalu dengan sabar mendengar segala keluh kesah dan permasalahan umatnya, lalu dengan lemah lembut memberikan solusi dan pemecahan masalah. Kemudian yang paling menambah cinta saya pribadi padanya adalah saat mendengar cerita bahwa beliau menahan lapar bersama umat-umatnya saat menggali parit guna menyusun strategi perang. Beliau bahkan diam-diam menyumpalkan tiga batu di perutnya dan tidak mengeluh, tidak menyuruh umatnya mencarikan makan untuknya. Beliau tetap bekerja hingga salah seorang umat yang mengetahui beliau menyumpalkan batu untuk menahan laparnya itu segera menyuruh istrinya memasak apa saja yang tersisa dirumahnya untuk dihidangkan pada sang Rasul. Tapi apa yang terjadi saat undangan perjamuan makan khusus untuk Rasul itu datang pada beliau? Beliau menyuruh seorang umatnya itu memanggil semua saudaranya untuk datang, bahkan Muhammad SAW sendiri yang menyendokkan makanan-makanan itu kemangkuk umat-umatnya dan beliau rela memakan sisanya. Siapakah umat yang tidak langsung jatuh cinta, siapa pula yang tidak ingin memuliakannya, bahkan saya sendiri meski hanya mendengar ceritanya saja seringkali bisa tiba-tiba berurai air mata mengingatnya.
Saudaraku, bukan hanya melayani umatnya, bahkan pelayan beliaupun mengaku bahwa justru Muhammad SAW lebih banyak melayaninya dibandingkan pelayanan yang diberikan olehnya pada beliau. Tidak berhenti pada melayani umatnya saja, Rasulullahpun bahkan melayani hewan piaraannya, beliau sering memberikan minum hewan-hewan dengan tangannya sendiri dan menunggu sampai hewan itu selesai meminumnya. Melihat itu semua, manusia normal mana yang tak seketika jatuh cinta padanya? Yang tak memuliakannya? Yang tak segera patuh mendengar dan taat pada perintahnya? Dengan keluhuran budi pekerti dan akhlaknya, umat mana yang mau meninggalkan dan mendustakannya?
Muhammad SAW, mengingat beliau membuat hati setiap hamba segera kembali pada rasa rindu yang teramat dalam. Mengingat apa yang dilakukan para pemimpin tak bertanggung jawab masa kini membuat rindu itu semakin menggebu dan tak tertahankan lagi. Kami rindu akan hadirnya seorang pemimpin yang sungguh besar cintanya pada kami, yang karena itu ia kami cintai dengan sepenuh hati. Kami tinggkan tanpa ia perlu meminta untuk ditinggikan, kami muliakan meski ia selalu menolak untuk dimuliakan, kami hormati karena ia sepenuh hati menghormati kami, kami patuhi karena tidak kami temukan alasan untuk mendustakannya.
Pada ahirnya saya berpesan pada diri saya pribadi, pada seorang ayah sang pemimpin keluarga, pada seorang ibu yang bertugas memimpin anak-anaknya, pada teman-teman mahasiswa yang diberikan amanah memimpin organisasi dikampusnya, pada siapa saja yang adalah pemimpin suatu golongan atau mungkin sebuah kumpulan. Amanah yang diberikan pada kita saat ini bukanlah kita emban agar kita menjadi sombong dan merasa lebih dibandingkan yang lainnya, bukanlah agar kita merasa diri kita hebat dan superior, bukanlah agar kita merasa mulia dan dimuliakan, agung dan diagungkan. Namun amanah tersebut diberikan agar kita ikhlas dan rela secara penuh tanggung jawab pada yang kita pimpin, ikhlas dan berlapang dada memberikan diri kita, waktu, tenaga, bahkan harta untuk melayani mereka, sesuai dengan pesan Rasulullah kepada kita, “Sayyidul qaumi khadimuhum (Pemimpin adalah pelayan rakyatnya)”. Segala kemuliaan datangnya hanya dari yang maha Kuasa, jika kita terus mengharapkan kehadiran kemuliaan itu dari manusia, lambat laun harapan itu hanya akan menghancurkan diri kita.
Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“. (Al-Ahzab(33): 21)

Advertisements

Demikianlah Katanya

Karna ini bukan zaman purba
Maka perkenankan hamba sahaya meminta
Karna ini bukan lagi era yang menguras pedih
Maka izinkanlah seorang wanita memilih
Bukan sebab kami ingin durhaka
Tapi yang di mata tetua memang sudah beda dengan yang kini ada di mata seorang hawa

Tapi katanya,
siapapun dia adalah buta
Karna yang benar punya mata hanyalah yang maha kuasa

Kemudian katanya,
Adik ini hawa yang tak jarang salah menyangka
Adinda bukanlah kaum yang dikebiri haknya
Ini karena adinda dipandang kami istimewa

Keistimewaan itu, sejauh apakah tingkat keajaibannya?
Sanggupkan kiranya menjemputkan seorang hamba terbaik yang diharapkan hawa di tiap-tiap sujud ahirnya?

Lalu katanya,
Tuhan bukanlah yang acuh pada khawatir yang adinda rasa
Bukan pula yang tak mau mendengar doa-doa
Adinda percaya saja
Yang terbaik yang adinda minta
Sedang sangat hati-hati dipersiapkan olehNya.

 

Bukan yang tidak Berkekurangan, tapi yang Pandai dan Bersemangat dalam Perbaikan

Suatu hari, akan ada suatu masa bagi seorang wanita untuk memilih ataupun dipilih. Hari itu adalah hari dimana ia harus menentukan kepada siapa jiwa dan raganya harus dipasrahkan seusai daripada penjagaan bapak dan ibunya. Saya disini berbicara tentang wanita baik-baik yang berharap hanya perlu menentukan pilihan sekali saja dalam seluruh bilangan umurnya, bukan wanita-wanita diluar sana yang gemar pilah-pilih pasangan, gonta-ganti laki-laki idaman.

Fitrahnya memilih adalah tentu yang paling baik diantara sejumlah pilihan. Sejatinya memilih adalah tentu yang tak bercacat dan zero kekurangan. Ketika kita memilih buah apel dipasaran, tak mungkinlah kita memilih yang layu, busuk, atau berlubang bekas kemasukan cacing. Pun sama ketika memilih hewan piaraan, tak mungkinlah kita memilih kucing yang penyakitan, yang tinggal hitungan hari akan mati mengenaskan. Sejatinya memilih adalah yang tak berkekurangan.

Namun bagi diri saya, memilih seorang pasangan tak bisa saya samakan dengan memilih buah atau hewan piaraan. Pasangan bukanlah benda atau hewan yang kita pilih dengan tujuan untuk memuaskan keinginan. Pasangan, bagi seorang wanita adalah sosok manusia yang bisa menggantikan amanah Tuhan pada orang tuanya dalam hal penjagaan. Karena bagi saya, menjaga bukanlah perkara yang sederhana saja. Menjaga bukan berarti dia harus mengurung wanita dalam sangkar egonya, namun menjaga menurut pandangan saya adalah sangat luas maknanya. Seorang laki-laki tersebut harus mampu menjaga wanitanya, baik raganya dari malapetaka dan mara bahaya, ataupun jiwanya dari kerapuhan. Ia harus bisa menjaga perasaan dan hati seorang wanita dari kesakitan, pun fikir wanita tersebut dari kemelaratan ilmu dan pengetahuan. Ia harus bisa menjaga seorang wanita agar senantiasa bertambah cintanya pada Rabbnya, bertambah baktinya pada orang tuanya, dan bertambah keseganan orang-orang disekitarnya padanya. Wahai para laki-laki di luar sana, sadarkah kalian amanah ini tidak mudah?

Ada ribuan bahkan jutaan laki-laki di dunia ini, jumlah yang banyak sekali untuk para wanita jika ingin melakukan seleksi dan audisi untuk memperoleh pasangan yang mereka inginkan. Tidak sedikit dari wanita-wanita itu menyebutkan kriteria-kriteria laki-laki idaman. Kriteria teratas biasanya adalah perihal ketampanan. Aduhai betapa bahagianya jika bisa menggandeng suami tampan ke kondangan, memamerkannya pada rekan-rekan pastilah merupakan kebanggaan. Ya Tuhan betapa senangnya jika bisa punya suami tampan, memandangnya setiap hari akan membuat kenyang tanpa perlu makan. Rupa, biasanya adalah syarat utamanya. Hal kedua yang sering memikat para wanita adalah harta kekayaan. Tahta, jabatan , kedudukan harus sangat cermat dipertimbangkan. Karena datang ke reonian bersama laki-laki yang mengendari pajero sport adalah lebih keren ketimbang diantarkan pakai motor bebek. Karena bisa pamer pakaian dan tas impor juga perhiasan pembelian suami ke teman-teman arisan adalah aktivitas yang sangat menggembirakan bukan? Dan biasanya syarat-syarat lain yang mengikuti adalah dia harus pinter, rajin menabung, sayang sama aku, taat beribadah, setia, perhatian, nggak suka marah-marah, bla bla bla… pokoknya yang sempurna deh!

Wahai teman-teman wanita, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Allah sengaja tidak menciptakan orang yang sempurna agar mereka mau berusaha, berusaha mencapai titik kesempurnaan. Tidak ada laki-laki sempurna seperti juga tidak ada perempuan yang sempurna. Jika anda kekeuh menunggu yang sempurna menurut anda, ya anda tidak akan pernah bisa menikah sampai kapanpun juga. Yang harus anda cari adalah bukan yang sempurna di mata anda, tapi yang sempurna untuk anda di mata Tuhan. Wajar jika wanita menginginkan pendamping yang sempurna, namun coba tanyakan pada diri kita, sesempurna apakah kita sampai kita menghendaki laki-laki sempurna yang tanpa kekurangan?

Bukan perihal dunia seperti rupa maupun harta yang bisa menjaga kita para wanita, bukan rupa dan harta pula yang menyelamatkan kita kelak dari api neraka. Tapi kecintaan dan ketaatan laki-laki tersebut pada Tuhannya lah yang harus kita nomor satukan. Karena Tuhan mewajibkan para suami memuliakan istrinya, maka selama suami anda taat pada Tuhan maka dia tidak akan pernah berhenti memuliakan anda. Terus gimana dong kalau nggak kaya? Kalau nggak pinter, kalau nggak ganteng, dan lain-lain? Tenang saja, anda tidak perlu menghawatirkan hal-hal tersebut selama dia taat pada Tuhannya dengan sebenar-benar taat. Kok bisa demikian? Tentu saja bisa. Laki-laki yang mencintai Tuhan akan melakukan apapun yang diperintahkan olehNya termasuk terus menerus mengadakan perbaikan. Laki-laki yang taat pada tuhannya akan mengimani firman Tuhan yang berikut ini.

…. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Al-An’am(2): 48)

Barang siapa yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, nah tu, nggak usah khawatir dan nggak usah sedih jika orang yang dijodohkan dengan anda belum orang yang kaya atau sempurna dimata anda. Selama mereka beriman dan melakukan perbaikan diri, Sungguh tidak perlu khawatir. Laki-laki yang beriman tau dia diwajibkan oleh Tuhan untuk menafkahi istri dan keluarganya, maka jika ekonominya kurang baik dia akan sekuat tenaga memperbaiki kualitas diri dan kinerjanya untuk bisa mapan dalam hal keuangan. Laki-laki yang beriman sadar Tuhan mewajibkannya untuk mendidik istri dan anak-anaknya kelak, maka jika dia tahu ilmunya belum seberapa, dia akan dengan serius memperbaiki keilmuannya, belajar dan belajar terus, ia akan selalu haus akan ilmu dan pengetahuan. Laki-laki yang beriman pasti faham bahwa Tuhan memintanya untuk jadi tauladan atau uswah bagi keluarganya kelak, maka jika akhlak dan budi pekertinya belum sempurna, dia akan dengan senang hati memperbaikinya. Laki-laki yang beriman mengerti benar ia tak boleh melukai hati seorang wanita, maka ia akan terus dan terus memperbaiki diri agar bisa lembut dalam tutur kata, penuh kehati-hatian dalam bersikap, sabar dan ikhlas menenangkan, dan berkomitmen untuk setia. Sungguh saudariku, anda tidak perlu khawatir dan takut akan apapun. Mereka para laki-laki yang cinta Tuhannya akan dengan senang hati memperbaiki segala segi diri dan hidupnya untuk anda. Maka dari itulah, sebaik-baik jodoh kita bukan yang tak berkekurangan, tapi yang pandai dan bersemangat dalam perbaikan. Yang demikian, Semoga sedang Allah persiapkan… 

 

Salam Cita-Cinta

Mei Fatmila

Sabar Ayub AS yang tak Berbatas

Sabar adalah kata yang lekat di gendang telinga umat manusia, diperdengarkan hampir setiap hari terlebih lagi bagi orang-orang yang sedang ditimpa kesulitan. Sabar adalah kalimat pertama yang kita bisikkan ke telinga sahabat dan karib kerabat saat kita mendengar keluhan atas ujian yang ditimpakan Allah kepadanya. Tak terhitung sudah berapa juta kali orang lain menasihatkan agar supaya kita sabar. Namun sabar adalah tak semudah pengucapannya, terkadang manusia faham ia harus sabar saat ditimpa suatu ujian (karena masalah dan nasihat sabar itu seolah selalu bergandengan tangan), namun bagaimana caranya sabar? sejauh apa sabar itu harus dilakukan? sampai mana batas kesabaran? Ketidakmampuan orang menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang sabar itulah yang mengakibatkan mereka menyalah artikan sabar dengan pasrah, membiarkan, diam, dan membatasi kesabarannya dengan menyerah. Maka Allah yang maha tau akan sifat manusia itu memberikan contoh nyata tentang bagaimana sabar itu harus dilakukan, dan sejauh mana manusia harus bersabar. Beliau Allah SWT menyisipkan banyak sekali Siroh nabawiyah (kisah nabi-nabi) dan bagaimana mereka menghadapi ujianNya dengan kesabaran. Namun saya hanya akan membahas satu kisah yang ahirnya menginspirasi saya dan memahamkan pada saya tentang cara untuk bersabar. Kisah yang kemudian saya pilih adalah milik beliau Nabi Ayub AS dan bagaimana utusan Allah tersebut melalui segala macam ujiannya yang bertubi-tubi dengan kesabaran. Dalam salah satu firmanNya, Allah secara gamblang menyatakan bahwa Nabi Ayub adalah seorang yang sabar, bahkan Allahpun menimpakan pujian dengan mengatakan dialah sebaik-baik hamba karena kesabaran tersebut.

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44)

“Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: (‘Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyahit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. al-Anbiya’: 83-84)

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.’ (Allah berfirman): ‘Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesugguhnya Kami mendapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (hepada Tuhannya).” (QS. Shad(38): 41-44). 

Ada banyk fersi kisah nabi Ayub yang pernah saya baca ataupun saya dengar, maka saya mencoba untuk menyimpulkan dan mengambil yang sesuai dengan ayat yang menegaskan kisah tersebut. Ayat tersebut menyebut ‘sakit’ dan ‘keluarga’. Maka ujian yang menimpa nabi Ayub adalah berada diantara dua kata tersebut. Nabi Ayub pada awalnya adalah orang dengan keluarga yang bahagia dan hidup bersama istri dan anak-anak yang dicintainya. Ia berkecukupan bahkan beberapa kisah menyebutkan bahwa beliau cukup memiliki banyak harta. Beliau juga terkenal dilingkungannya sebagai orang yang baik dan sabar. Suatu hari setan mengatakan pada Allah kalau Ayub hanya menyembah Allah dan taat karena balas budi atas segala kenikmatan yang Allah berikan padanya. Jika tidak ada nikmat itu padanya, maka iapun tidak akan taat. Menanggapi pernyataan setan itu Allah pun memberikan ujian pada Ayub untuk membuktikan pada setan bahwa Ayub tidak seperti yang dituduhkannya. Maka satu persatu ujian diturunkan. Berawal dari diambilnya kekayaan dan harta Ayub (cerita yang pernah saya dengar menjelaskan kalau perkebunan dan peternakan nabi Ayub musnah sekejab oleh penyakit dan kebakaran), mengalami hal tersebut tentu saja Ayub bersedih hati. Beliau adalah manusia seperti kita juga, ketika harta dan sumber penghidupannya diambil oleh Allah, ia juga pasti merasa terpukul karena harta tersebutlah yang ia gunakan untuk menafkahi keluarganya. Namun Ayub sadar bahwa Allahlah yang maha melapangkan dan menyempitkan rezeki, Allah yang memberikan maka Allah berhak mengambilnya, jika Allah ridho bukan tidak mungkin Allah akan memberikan lagi segala kenikmatan tersebut suatu saat nanti. Mudah bagi Allah melakukan itu. Mengetahui Ayub dapat bersabar atas ujian terhadap hartanya, Allahpun menguji dirinya melalui sesuatu yang sangat Ayub cintai di dunia, yaitu anak-anaknya. Allah mengambil anak-anak yang sangat ia kasihi, penghias keluarganya, penggembira saat ia ditimpa perkara. Pada saat itu Allah mengambilnya. Namun sekali lagi Ayub tidak bersuudzon pada Allah, ia tetap memuji Allah dan menyadari bahwa anak-anaknya adalah bukan sepenuhnya miliknya, mereka adalah titipan Tuhan, jika suatu hari yang menitipkan ingin mengambil kembali dia tentu tidak boleh melarang dan bersikeras menahannya. Dia harus mempersilahkannya dengan ikhlas. Ia tidak protes, tidak berhenti memuji Allah dan tidak putus asa. Lagi-lagi Ayub bersabar atas ujian yang ditimpakan kepadanya.

Dan yang terahir adalah ujian yang merenggut sehatnya, Ayub ditimpa penyakit yang menurut cerita adalah penyakit kulit parah dari ujung kepala hingga kakinya. Penyakit yang membuat banyak orang menjauhi dan mencibirnya. Penyakit tersebut dideritanya lama hingga Ayub mau tak mau harus merasakan kesedihan dan keterasingan yang tidak sebentar. Namun apakah Ayub menyalahkan Tuhannya? Padahal Allah telah mengambil semua yang ia miliki didunia, harta, keluarga, dan dirinya lewat penyakit tersebut. Apakah Ayub lantas menyerah dan berhenti bersabar? Ayub pada saat itu bukan apa-apa lagi seperti dulunya, ia hanya manusia berpenyakit yang dianggap orang menjijikkan, ia adalah miskin papa yang tidak berdaya upaya, ia hanyalah orang yang hidup sendirian dan terasing dengan masalah bertubi-tubi yang menimpanya. Dia bahkan sudah seperti mati karena titik-titik yang menghidupkannya sudah tidak dia miliki. Dia sudah benar-benar tidak memiliki apa-apa di dunia, bahkan dunia seolah sudah membuangnya, tapi dia memiliki kesabaran. Kesabaran yang selalu membuatnya mengingat akan adanya Tuhan. Kesabaran yang membuatnya meyakini bahwa ujian yang menimpanya bertubi-tubi adalah karena kecintaan Tuhan padanya. Ia tidak marah, tidak suudzon, tidak berhenti menyembah dan meminta pertolongan pada Allah. Justru ujian semakin mendekatkan dan mendekatkannya lagi pada yang maha memiliki segala. Maka sampai manakah batas kesabaran Ayub? Sabarnya Ayub tidak ada batasnya. Kehilangan seluruh harta tdk membatasi kesabarannya, kehilagan keluarga yang dicintai juga bukan batasnya, kehilangan sehat yang menyebabkan hilangnya sahabat, kerabat, harga diri dan kemuliaan dimata orang lain, juga bukan batasnya. Sabarnya Ayub tidak berbatas sampai Allah mengembalikan segalanya. Kesehatannya, keluarga dan anak-anak dengan melipatkan bilangan mereka, kehormatan dan kemuliaan di mata lingkungannya, rezeki yang cukup dan semua yang ia miliki dahulu. Tidak berkurang sedikitpun bahkan Allah melebihkannya. Dan yang paling utama dari itu semua adalah Allah lebih pula cintaNya padanya. Cinta Allah dibuktikan dengan menceritakan kisahnya dan memuji beliau dalam surat An-nabiya dan Sad dalam Alqur’an.

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44)

Sebuah Pertemuan

Aku sedang menunggu

sebuah pertemuan denganmu

pertemuan memusnah rindu,

pertemuan melibat masa lalu.

 

Aku dan kamu

biar kita berdua saja yang rencana,

jangan bilang siapa-siapa

jangan gaungkan ke mereka,

nanti pada tertawa, nanti ada yang putus asa jua.

 

Peertemuan kita, kapankah jadwalnya?

Besok, lusa, setahun lagi, seribu tahun lagi?

atau nanti saja kalau kita berdua sudah mati?

biar bukan sekedar bertemu lantas kau pergi lagi,

biar bertemunya kita jadi sebuah pertemuan yang abadi.

Yang Seperti Yusuf AS, Masih Adakah?

Malam ini ketika membaca surah Yusuf saya tiba-tiba ingin menulis kisah ini dan menaruhnya di blog saya, malam ini, setelah membaca surah Yusuf saya menanyakan pertanyaan ini kembali, pertanyaan yang sama dengan yang saya tanyakan  pada malam-malam sebelumnya. Yusuf AS, mungkin saja saya terlampau terinspirasi pada cerita akan sosok nya di sebuah surah ke-12, surah yang oleh Allah dikhususkan untuk menjabarkan segala keistimewaannya. Ya, laki-laki tersebut sungguh teristimewa, dan namanya pantas tersebut pada kitab suci bersama nama para hamba-hamba istimewa lain seperti Muhammad AS, Nuh As, Ayub As, dan lainnya. Semua orang diseluruh penjuru dunia mengenalnya sebagai laki-laki dengan wajah tertampan di jagad raya, yang digilai bahkan oleh Zulaikha, ratu cantik istri raja. Tapi bukan hal itu yang Tuhan ingin ceritakan pada hambanya, padaku, pada kita. Sungguh bukan perkara ketampanan wajahnya saja, namun ketampanan hatinya, keindahan imannya.

Terkisah pada surah Yusuf ayat 13 yang menegaskan ketampanan paras Yusuf As.

Maka tatkala wanita itu (Zulaykha) mendengar cercaan mereka, diundangnya wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf), “ keluarlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari tangannya) dan berkata, “ Maha sempurna Allah, ini bukanlah Manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” (Yusuf:31)

Ketampanan Yusuf As bahkan diibaratkan seperti malaikat, malaikat yang cahanya menyilaukan mata para wanita yang sampai kehilangan akal sehatnya memotong sendiri jari tangan mereka. Entah setampan apa, yang pasti lebih tampan dari bintang hollywood atau bintang Korea. Saya tidak sampai akal membayangkannya. Tapi sungguh bukan ketampanannya yang memikat saya, sungguh bukan ketampanan wajahnya…

Berikut ini mungkin bisa menerjemahkan ketampanan yang saya maksudkan,

Wanita itu berkata, “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) AKAN TETAPI DIA MENOLAK. Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia termasuk golongan orang-orang yang hina” (Yusuf:32)

Begitulah Zulaikha menggoda Yusuf, mengancamnya dengan penjara. Bayangkan saja, diminta mencintai wanita cantik dan jika tidak mau justru akan dipenjarakan. Laki-laki mana didunia ini yang tidak mau? Tidak diminta saja jika ada wanita cantik sudah jelalatan matanya, sudah tentu ingin memilikinya. Tapi Yusuf tidak, Yusuf berbeda dari mereka, Yusuf terang-terangan menolak wanita cantik tersebut dan dengan berani dan bijaksananya mengatakan yang berikut ini.

Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku, PENJARA LEBIH AKU SUKAI DARIPADA MEMENUHI AJAKAN MEREKA KEPADAKU…”

Maka pantas jika saya atau mungkin kaum hawa lainnya berkali-kali bertanya pada Tuhan, “Maha besar Tuhanku, masih adakah yang seperti Yusuf As didunia ini?” Para laki-laki mungkin akan berkata demikian ini, “wajar, kan Yusuf nabi.” Sungguh mereka tidak berhak berkata demikian itu, Yusuf As adalah seorang manusia, diciptakan sama seperti semua laki-laki didunia ini, bedanya beliau jauh lebih tampan saja dari mereka. Yusuf juga dianugrahi hawa nafsu layaknya mereka, tapi Yusuf dengan sangat bersahaja merendahkan hawa nafsunya dengan akal. Yusuf dengan sangat bijaksananya mengingat Tuhan, Penciptanya..

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. .. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih. (Yusuf: 24)

Allah, pada ayat tersebut berusaha menegaskan pada semua laki-laki didunia ini bahwasanya Yusuf adalah sama seperti mereka, sebagai laki-laki beliau pun teramat mungkin menyukai lawan jenisnya, namun rasa cinta yang Allah anugerahkan pada hambanya adalah bukan untuk diumbar sesukanya, semaunya sehingga lupa pada cinta yang telah menciptakan rasa cinta, pada Tuhannya. Allah melalui cerita Yusuf As mengajarkan pada semua laki-laki didunia bagaimana cara mencintai dengan benar, bagaimana menempatkan rasa cinta pada penciptanya dengan tepat. Sepertinya bahkan Tuhan sengaja menciptakan Yusuf dengan ketampanan wajah yang menawan untuk lebih menegaskan, “Ini loh, yang berwajah tampan dan digilai semua wanita didunia saja bisa menjaga dirinya, bisa menjaga kehormatannya, bisa menjaga rasa cinta pada Tuhannya.”

Yusuf, bisa memahami bahwa ketampanannya adalah ujiannya… Yusuf bisa memahami bahwa segala kehebatan yang membuat dirinya indah dimata semua wanita adalah bukan alat untuk memikat mereka untuk sekedar memuaskan hawa nafsunya. Yusuf mengerti bagaimana menjaga diri dan kehormatannya, sungguh Yusuf mengerti bagaimana menjaga kehormatannya sebagai seorang laki-laki. Bukan hanya wanita, laki-lakipun seharusnya bisa menjaga diri dan kehormatannya. Belajarlah pada Yusuf…

“Yusuf AS, yang seperti Yusuf AS, masih adakah?”